" Assallamualaikum and welcome to my blog ^_^ "



Senin, 22 Agustus 2011

Tentang Aku dan Kamu

Di keheningan ibadahku,, masih saja kutengadahkan tangan, penuh kekhusyukan, penuh keyakinan, penuh kepastian, bermohon akan kebaikan buatmu, meski kau telah pernah memporak-porandakan hatiku. 

Di ketakziman hari-hariku, masih selalu ku ucap namamu, dengan penuh kesadaran, sepenuh rasaku yang selalu hanya untukmu, utuh, tak tergantikan, meski kau telah selalu sanggup menghadirkan gerimis di mataku, mendung di hatiku, badai di jiwaku.



Cinta memang aneh, tak terejawantahkan dalam satu definisi absolut.

Seperti matahari dan rembulan yang takkan pernah bersua dalam satu masa putaran waktu, tapi kehangatan matahari dan keindahan rembulan, mampu menciptakan keseimbangan dalam mewarnai jagad raya.


Seperti itu jugakah kita ???
Saling mengasihi namun selalu menyakiti ?
Saling merindukan tapi selalu mengabaikan?

Tapi aku butuh kamu...
Seperti kamu butuh aku...
Untuk mengarungi kehidupan..
Agar keseimbangan semesta ini tetap terjaga...


Rabu, 10 Agustus 2011

Dan ,,,, 19 catatan perjalanan dari Jawa, Madura, Sydney dan Melbourne

Kalau ada orang yang dekat dihati tapi kadang nyebelin,, itulah Dan..

Sepuluh tahun yang lalu kejadiannya, ketika saya belajar di tingkat master. Ia pindah ke flat yang tadinya disewa oleh keluarga Maddeppungeng persis di depan flat kami, di Brunswick. Maddeppungeng sudah menyelesaikan program master dan akan pulang ke tanah air. Dan menggantikan menyewa flat itu. Sebab dia mencari teman. Yang muslim.

Dan memang mualaf. Baru saja dia mengucapkan syahadat di masjid Jalan Jeffcot beberapa hari sebelumnya. Disunat saja belum dia. Tapi keluarganyapun belum tahu kalau dia telah menjadi muslim. Dan tidak membuang-buang waktu. Dalam minggu pertama dia pindah di situ, dia meminta tolong suami saya untuk menemaninya sunat. Saat itulah baru terasa hebatnya sebuah sarung, yang bagi Dan tadinya terasa sebagai barang yang aneh desainnya. 
"Now, i know the magic of this cloth. I can't imagine how awful it will be without it. (Sekarang aku tahu hebatnya kain ini. Tidak bisa kubayangkan bagaimana sengsaranya tanpa ini)"

Dan sangat senang berkumpul dengan kami, ia seperti orang yang rindu memiliki keluarga. Anak-anak Indonesia  yang ada di gedung itu segera akrab dengannya. Dia selalu datang saat shalat, minta berjamaah. Malunya !. Sebelum ada Dan disitu, kami tidak berjamaah.

Orangtua Dan bermigrasi dari suatu wilayah  di Inggris. Mereka menganut Kristen Anglikan. "Tapi kami menganut agama itu secara budaya. Ke gereja hanya saat christmas, pernikahan dan kematian. Meskipun begitu kami bangga menjadi Anglikan," kata Dan.
Menjelang remaja, orangtuanya bercerai. Dan tinggal bersama ibunya yang lalu serumah dengan keluarga adiknya yang juga bercerai. Jadilah Dan tinggal bersama di rumah itu dengan paman dan 2 saudara sepupunya. Salah satu sepupunya laki-laki dan sebaya dengannya.

Kedua remaja itu sangat akrab. Lalu pada suatu periode mereka mulai memikirkan hidup mereka, mencari arti hidup. Dua anak dari keluarga yang terpecah karena perceraian mencari-cari kedamaian. Mereka mulai mencari Tuhan.
Semua buku agama dibaca. Dari kitab agama Buddha, Hindu hingga Konfusianisme. Kecuali Al-Qur'an. Menurut pengertian mereka selama ini, Al-Qur'an itu milik orang Islam yang miskin-miskin dan kotor-kotor, kasar dan jahat.

Semua buku agama yang mereka baca itu menyisakan pertanyaan yang tidak memuaskan. Akhirnya mereka mencoba melihat Al-Qur'an. Dan begitu pertama membacanya, mereka langsung berpendapat sama, "These are the words of God, no doubt at all. (Ini adalah kata-kata Tuhan, tidak ragu sedikitpun)."
 
Mereka lalu membeli satu mushaf Al-Qur'an. Sembunyi-sembunyi. Disimpan dibawah kasur. Kalau pulang sekolah, yang pertama kali mereka lakukan adalah membacanya. Dan itu berlangsung selama bertahun-tahun, sampai suatu ketika......
Sepupu Dan itu mengalami kecelakaan, ia meninggal dunia seketika. Dan terpukul. Ia sangat sedih. Lalu membuat Dan menjadi tersadar bahwa ia pun bisa mati kapan saja, sebelum ia masuk Islam. Padahal sekarangpun ia sudah kuliah di jurusan bahasa Arab di Melbourne University, supaya lebih mengenal Al-Qur'an. Hanya tinggal satu hal penting yang belum dia lakukan: ikrar syahadat. Dan ikrar itu membawa konsekuensi-konsekuensi lain : shalat, puasa, zakat, haji. Menjadi muslim sepenuhnya.
Maka tanpa membuang waktu, Dan ke masjid kampus, menemui Maddeppungeng. Prosespun bergulir sampai ia menjadi muslim.

Senang mempunyai saudara seperti Dan. Cuma dia suka bikin kami gerah. Betapa tidak, ia terlongong ketika tahu hafalan surat pendek saya tidak berubah sejak saya SD. Padahal dalam sebulan pertama menjadi muslim, dia sudah hafal semua surat juz amma.
Lain kali Dan tampak shock ketika melihat beberapa rekan kami memperlakukan guru ngajinya yang mereka datangkan dari satu kota di Jawa. Bagaimana mereka melayani gurunya itu sedemikian penuh hormat, cium tangan, membungkuk-bungkuk  dan menunduk-nunduk setiap saat.
"Apakah Rasulullah diperlakukan begitu umi ?" tanya Dan padaku.
"Itu kan salah satu cara penghormatan brother," kata saya.
"Rasulullah melarang orang berdiri untuk memberi penghormatan ketika dia datang," katanya sedih, "dan sekarang, Guru itu menikmatinya umi."
"Dan tahu nggak," lanjutnya lagi, "aku ajak Guru itu berdiskusi. Dia tidak mau umi. Pendapatnya adalah harga mati, ia yakin bahwa ia ma'sum (bebas dari dosa). Aku yakin ilmu dia tidak cukup. Kenapa dia bisa jadi guru, apalagi diperlakukan seperti itu?"

Lain waktu  ketika saya berapi-api bercerita tentang hebatnya orang-orang yang bisa bekerja dengan jin, dia mengkerutkan keningnya.
"Mengapa mereka berbuat begitu?" tanyanya.
"Kenapa? bekerjasama dengan makhluk Tuhan yang lain kan boleh ? Apalagi mereka punya kemampuan yang melebihi kita?" jawab saya.
"Melebihi kita? what do you mean (maksudmu)?" tanyanya lagi.
Saya mulai merasa sedang berada di sudut yang tidak memungkinkan saya bergerak kemanapun.
"Manusia kan makhluk terbaik, umi. Apa masih kurang? Dan Rasulullah melarang kita minta tolong kepada jin. Rasulullah tidak pakai kekebalan, kesaktian atau apapun namanya, right ?"

Dan kok gitu sih. Bikin malu terus. Belum lagi saat dia menyadari bahwa pemuda-pemudi muslim banyak yang terpesona (atau memuja?) artis-artis penyanyi pop.
Saya jadi nggak enak juga melihat Dan selalu bereaksi begitu. Tapi rupanya dia menangkap kegelisahan saya.
"Don't worry, umi. Aku tahu keadaan kaum muslimin. Cuma tadinya aku tidak berharap bahwa kalian yang educated muslim (muslim terpelajar) bisa berbuat seperti itu juga."
"Tapi aku sadar bahwa kalian menjadi muslim secara tidak sengaja," senyumnya.
"Sorry...?!!" kata saya.
"Maksudku, kalian menjadi muslim karena kebetulan orang tua kalian adalah muslim. Jadi kalau kalian tidak mencari tahu benar-benar tentang Islam, tidak bakal tahu juga apa itu Islam, meskipun kalian muslim."
"Lain prosesnya dengan kami disini," lanjutnya. "Kami mencari dan kami menemukan. Dengan segala kesulitannya. Kami harus meninggalkan cara hidup kami, kadang berhadapan dengan keluarga yang menentang kami. Yang lebih penting lagi adalah bahwa aku menjadi muslim bukan karena aku bergaul dengan orang muslim, tapi karena aku membaca Qur'an. Tapi meskipun begitu, ada perbedaannya. Kalian menyikapi hidup dengan cara berbeda dari orang yang tidak beragama. Sebab kalian mengenal akhirat," ujarnya dengan mata berbinar.

Itulah Dan....




# Kisah diatas merupakan salah satu dari 19 cerita yang terdapat dalam buku kumpulan kisah pendek yang berjudul .... Dan,,, 19 catatan perjalanan dari Jawa, Madura, Sydney dan Melbourne .... karya UMI PURWANDARI. Kisah-kisah nyata yang menggugah, dengan penuturan sederhana, lugas tapi cerdas dan pantas menjadi bahan renungan juga pembelajaran. Dan juga menjadi salah satu buku favorit saya ^_^ #